Archive for January, 2007

tragedi putri beserta mio huahaaa

Thursday, January 25th, 2007

p3an Terban…McD Sudirman

2.40pm….mau berangkat gawe…

hari yg indah

putputputputree : kan dilampu merah
putputputputree : aku mau kekanan
putputputputree : aku berhenti di barisan paling kanan
putputputputree : pas udah ijo…aku jalan….
putputputputree : depanku ki pelan2
putputputputree : njuk aku berniat nyelip
putputputputree : baru berniat looo
putputputputree : blm sempet nyelip
putputputputree : stangku tuh kecantol motor dr blkng ku yg mau nyelip aku
putputputputree : pas nyelip aku…dia mungkin keilangan keseimbangan..njuk belak belok le nyetangi
putputputputree : nganti stangku kecantol
putputputputree : njuk aku kegeret ama dia

putputput putree: aku kan jatuhnya ke kanan….
putputput putree: pas itu aku cuma pake tank top ama jaket
putputput putree: njuk pundak kananku tergores aspal
putputput putree: jd memar
putputput putree: ama lutut kanan
putputput putree: ama kaki bawah kanan juga
putputput putree: sempet cium aspal…trus kepalaku pusing,,untung helm mio safety bgt

bizzare of triangle

Sunday, January 7th, 2007

Everytime I think of you
I feel shot right through
with a bow of gloom.
It’s no problem of mine
but it’s a problem I find
living a life that I can’t leave behind.
There’s no sense in telling me
the wisdom of a fool won’t set you free.
But that’s the way that it goes
and it’s what nobody knows
and every day my confusion grows.
Everytime I see you falling
I get down on my knees and pray you’ll say the words that I can’t say.
I feel fine and I feel good
I’m feeling like I never should.
When ever I get this way
I just don’t know what to say.
Why can’t we be ourselves
like we were yesterday.
I’m not sure what this could mean.
I don’t think you’re what you seem.
I do admit to myself
that if I hurt someone else
then I’ll never see just what we’re ment to be.

hidup

Thursday, January 4th, 2007

dithidup ini bukan tentang mengumpulkan nilai. bukan tentang berapa banyak cowok yg menelponmu dan juga bukan tentang siapa pacarmu/ orang yg kau taksir. bukan tentang siapa yg kau cium, atau pemuda mana yg menyukaimu.
bukan tentang kepopuleranmu. hidup ini bukanlah apakah kau memiliki banyak teman atau kau sendirian, dan bukan tentang apakah kau diterima atau tidak oleh lingkunganmu. hidup bukanlah soal itu.
namun hidup ini adalah tentang siapa yang kau cintai dan siapa yg kau sakiti. tentang bagaimana perasaanmu terhadap dirimu sendiri. tentang kepercayaan, kebahagiaan dan welas asih.
hidup adalah tentang menghindari rasa cemburu, mengatasi rasa tak peduli dan membina rasa kepercayaan. tentang apa yg kau katakan dan apa yg kau maksudkan. tentang mengatasi rasa percaya dirimu. tentang menghargai orang apa adanya.
dan yg terpenting, hidup ini adalah tentang memilih untuk menggunakan hidup ini, untuk menyentuh hidup orang lain dengan cara yg tak bisa digantikan dengan cara lain. hidup adalah tenatng pilihan2 itu

Thursday, January 4th, 2007
Hey dad look at me
Think back and talk to me
Did I grow up according to plan?
Do you think Im wasting my time doing things I wanna do?
But it hurts when you disapprove all along

And now I try hard to make it
I just want to make you proud
Im never gonna be good enough for you
I cant pretend that
Im alright
And you cant change me

cuz we lost it all
Nothing lasts forever
Im sorry
I cant be perfect
Now its just too late and
We cant go back
Im sorry
I cant be perfect

I try not to think
About the pain I feel inside
Did you know you used to be my hero?
All the days you spend with me
Now seem so far away
And it feels like you dont care anymore

And now I try hard to make it
I just want to make you proud
Im never gonna be good enough for you
I cant stand another fight
And nothings alright

Nothings gonna change the things that you said
Nothings gonna make this right again
Please dont turn your back
I cant believe its hard
Just to talk to you
But you dont understand

Erase Your Bad Habits, Fast!

Wednesday, January 3rd, 2007

Sekilas, rentetan kebiasaan ini memang nampak sepele. Tetapi jika tak waspada, bisa jadi impian Anda mendomisili ruangan berjendela besar milik si bos hanya tinggal isapan jempol belaka. Maka dari itulah, teman, sebelum terlanjur menghela napas penyesalan, Cosmo siapkan kiat-kiat trampil untuk mengikis kebiasaan-kebiasaan yang bisa membahayakan masa depan. Tak lama, puncak karier yang gemilang itu akan jadi milik Anda.

Unfriendly Habit 1:

Waiting to be handed what you want

"Duh, kenapa, ya, promosi jabatan itu tak kunjung menghampiri saya? Ya sudah, saya tunggu saja hasil penilaian performa kerja berikutnya." Oke, deretan kalimat itu tentu sering Anda dengar, atau jangan-jangan Anda juga pernah mengatakannya. Well, darling, sudah bukan zamannya lagi Anda duduk manis dan berharap posisi impian itu bakal jatuh ke pangkuan. Awas, bersikap pasrah seperti itu bisa membuat karier Anda terbengkalai. Elaine Sampson, pemilik Avocado Vision, perusahaan komunikasi interpersonal di Afrika Selatan berpendapat bahwa tindakan pasif tersebut justru melanda banyak wanita muda, terutama buat yang baru bergabung di dunia kerja. "Sebagian besar wanita enggan membahas prestasi yang telah mereka capai selama ini. Dan, di kala mereka berani mengutarakannya, tak jarang dari mereka yang malah bersikap rendah hati, berharap bukti sukses yang telah diraihnya itu bisa ‘berbicara’ dengan sendirinya," papar Elaine. Sayangnya, kenyataan itu jarang sekali terjadi.

Corner-office pointers:

- Entah Anda ingin kenaikan gaji atau promosi jabatan, jangan pernah sungkan untuk memaparkan kelebihan serta kemampuan kerja Anda di depan atasan. Pastikan juga para kolega tahu bahwa Anda benar-benar menguasai bidang pekerjaan yang Anda lakukan selama ini.

- Bersikap asertif dan jangan ragu untuk menawarkan bantuan atau tugas ekstra kepada atasan.

- Menurut Lois Frankel, pengarang Nice Girls Don€™t Get The Corner Office, sebelum menghadiri sesi review tahunan, pastikan Anda persiapkan terlebih dahulu daftar sukses yang ingin diutarakan di hadapan bos. Selanjutnya, pikirkan masak-masak tentang apa yang Anda inginkan dan kenapa Anda layak mendapatkannya. Utarakan hasil-hasil positif yang pernah Anda sumbangkan untuk perusahaan serta kontribusi yang Anda berikan kepada sesama rekan kerja selama ini. Gunakan sesi penting ini untuk mempromosikan diri kepada atasan.

Unfriendly Habit 2:

Put networking on the back seat.

Jangan pernah abaikan waktu untuk beramah-tamah dengan para kolega di kantor. Hei, tak ada salahnya sesekali bertukar cerita seputar akhir pekan Anda dengan mereka. Hanya pastikan kisah erotis Anda dan pasangan tetap jadi rahasia pribadi. Buhle Dlamini, pakar bisnis dari biro konsultan Young and Able berkata bahwa pada momen-momen inilah Anda punya peluang besar untuk lebih mengenal pribadi dari masing-masing rekan sejawat. Membangun jaringan relasi jelas penting. Karena di kala Anda butuh bantuan darurat, merekalah yang akan siap menolong Anda. Dan, hubungan sosial itu kerap lahir dari suatu kesamaan, seperti cara pandang, minat bahkan gaya hidup. "Tak bisa dipungkiri, setiap orang akan lebih semangat bekerja dengan kolega yang memiliki persamaan dengan dirinya," ungkap Dlamini. Menjalin relasi baik dengan klien dan para profesional lainnya di bidang yang Anda geluti juga punya peranan yang tak kalah penting bagi masa depan karier Anda.

Corner-office pointers:

- Frankel menyarankan untuk selalu meluangkan waktu sekitar 5% dari total jam kerja Anda per hari untuk membangun jaringan relasi. Anda tak pernah tahu kapan butuh uluran tangan mereka.

- Kegiatan di atas juga meliputi sesi berbincang di telepon dengan para kenalan Anda. Jangan ragu menghubungi para relasi baru (baik via email, sms atau telepon). Buat apa mengoleksi kartu nama mereka jika Anda tak tahu cara menggunakannya secara maksimal.

- Terapkan nasehat Frankel: bergabunglah dengan asosiasi atau komunitas untuk para profesional muda yang bergerak di bidang kerja Anda. Di dalam wadah itu, Anda bisa berburu banyak relasi penting sekaligus mencari sosok "guru" yang bisa jadi penasehat karier Anda.

- Ikut dalam grup aktivitas yang tersedia di kantor Anda. Kelas yoga atau kelompok pecinta film, misalnya. Atau, ambil inisiatif untuk menggelar acara hang out bersama beberapa teman dari satu divisi seusai jam kantor.

Unfriendly Habit 3:

Working hard (not smart)

"Kebiasaan menguras segenap tenaga untuk bekerja tanpa memedulikan kehidupan pribadi, lama-kelamaan bisa ‘menggerogoti’ kesehatan fisik dan batin Anda," jelas Dlamini. Frankel pun menambahkan bahwa banyak wanita yang merasa perlu bekerja dua kali lebih giat dibanding pria agar dinilai mampu oleh atasan. Padahal, asumsi itu salah besar! Cara tercepat untuk mengembangkan karier Anda adalah dengan memiliki kebiasaan kerja yang efektif.

Corner-office pointers:

- Frankel sarankan agar Anda bekerja hanya pada jam kantor yang telah ditentukan. Bukan berarti Anda tak akan pernah lembur. Hanya saja, jika Anda terus menerus lembur, itu pertanda ada sesuatu yang perlu Anda benahi: baik itu cara Anda mengelola waktu kerja atau cara Anda memilah prioritas tugas yang patut dikerjakan saat itu. Inilah saatnya untuk introspeksi, teman.

- Daripada sibuk lembur di kantor, coba fokuskan diri untuk mengembangkan cara yang efektif agar orang-orang dapat melihat performa Anda selama ini. Caranya, jadilah karyawan yang profesional, miliki ketrampilan berorganisasi yang andal, jaga hubungan baik dengan bos dan seluruh kolega, tunjukkan kemampuan berpikir secara strategis, dan berani ambil inisiatif dalam tiap kesempatan.

- Sebelum mulai bekerja di pagi hari, tentukan dahulu dengan seksama hal-hal apa saja yang ingin Anda capai hari itu dan coba patuhi daftar rencana tersebut.

Unfriendly Habit 4:

Taking feedback personally

Tak jarang wanita menanggapi kritik pedas dari sesama kolega atau bahkan atasan sebagai bentuk ’serangan’ yang bersifat pribadi. Ya, wanita memang gemar menggunakan emosinya, termasuk saat bertugas di kantor. Padahal menurut Dlamini, seharusnya wanita memandang kritik sebagai kesempatan emas untuk membenahi kinerja serta kemampuan yang mereka miliki. Tak hanya itu, deretan saran dari si bos, klien atau rekan kerja juga bisa membantu Anda untuk meneropong keunggulan serta kekurangan diri Anda. Jelas, kuncinya terletak pada bagaimana Anda mengolah kritik tersebut. Daripada bersikap defensif, biarkan opini tajam itu memompa semangat Anda untuk menjadi sosok karyawan yang lebih baik lagi.

Corner-office pointers:

- Kembangkan sifat "tebal muka". Lain kali Anda dikritik, sisihkan sejenak perasaan sakit hati itu. Lalu, ikuti dahulu saran tersebut. Jika Anda merasa kritik tersebut tak masuk di akal, mintalah pendapat orang lain. Jika tanggapan mereka sama, barulah rombak sifat Anda itu secara perlahan.

- Ucapkan terima kasih kepada sang kritikus meski Anda tak setuju dengan pendapatnya, dan jangan beberkan alasan Anda itu di sela perkataan.

- Tanyakan pada atasan tentang hal-hal apa saja yang perlu dibenahi dari diri Anda. Lakukan sesi review ini secara rutin. Sifat Anda yang berani ambil inisiatif untuk meminta saran dan kritik dari si bos, jelas menunjukkan bahwa Anda adalah pekerja serius dan selalu coba untuk menjadi seorang profesional yang lebih baik lagi.

Unfriendly Habit 5:

Gossiping as your daily work

"Sulit memang menghindari kebiasaan yang satu ini. Kalau para wanita sudah berkumpul, hasrat untuk bergosip rasanya tak bisa dibendung lagi," ujar Ceti Prameswari, Psi, psikolog. Sah-sah saja jika sekali dua kali Anda ikut terlibat dalam ajang rumpi bersama rekan-rekan sekantor. Tetapi menurut Ceti, jika Anda terlalu sering memancing gosip, maka tindakan itu sangat berpotensi untuk mengganggu lingkungan kerja Anda. Waspadalah, teman. "Bisa jadi, kolega yang menjadi si topik gosip hilang kesabarannya dan melakukan tindakan balasan yang bisa ‘melukai’ karier Anda," papar Ceti. Belum lagi, jika atasan beserta rekan kerja lainnya mulai hilang kepercayaannya pada Anda. Bisa jadi, Anda dikucilkan dari arena pergaulan di kantor.

Corner-office pointers:

- Kerahkan segenap aura positif dengan selalu membicarakan keberhasilan serta kebaikan orang lain. Itu berlaku kapan pun dan di mana pun Anda berada. Termasuk di dalam toilet kantor sekalipun. Ingat, dinding kantor biasanya "bertelinga", teman.

- Jika Anda keceplosan berkata negatif tentang seorang kolega, buru-buru ralat dengan sebuah pernyataan positif tentang dirinya di akhir perbincangan.

- Jaga tiap rahasia yang telah dipercayakan oleh bos, rekan kerja, klien, atau narasumber kepada Anda. Sikap mulia itu akan meningkatkan kredibilitas Anda sebagai sosok profesional yang dapat dipercaya.

cemburu

Wednesday, January 3rd, 2007

Bicara soal cemburu, sudah tentu tiap orang pernah dihinggapi oleh perasaan yang satu ini. Tak cuma wanita yang bisa dilanda cemburu saat kekasihnya sering menerima telepon dari sang mantan pacar. Pria juga sering dibakar api cemburu ketika memergoki sang sahabat memberi perhatian lebih pada kekasihnya. Banyak orang bilang cemburu itu tanda sayang atau cinta. "Kalau tidak cemburu, berarti dia tidak cinta kepada saya" begitu menurut pengakuan seorang teman wanita saya.

Tapi, ngomong-ngomong, sinyal untuk menunjukkan Anda mencintai pasangan tak cuma harus diperlihatkan dengan rasa cemburu, bukan? Saya lebih memilih untuk memberi kepercayaan dan kebebasan. Dua hal itu saya anggap paling penting dalam suatu hubungan, apapun bentuknya. Mungkin itu sebabnya, beberapa teman heran dengan kemurahan hati saya yang sering mengizinkan istri saya untuk clubbing bareng teman-teman prianya, atau bahkan nonton berdua dengan seorang sahabat pria. Tentu saja saya tak keberatan. Bukan saja saya telah mengenal deretan pria-pria itu, tapi saya sadar betul bahwa pasangan saya memegang sebuah ponsel yang bisa saya hubungi setiap waktu. Aman, kan? Plus satu bonus lagi: jika si dia pergi bareng teman pria, artinya saya bebas tugas. Tak perlu sibuk mengatur jadwal buat mengantar jemput. Saya yakin seorang pria yang baik, pasti tak keberatan mengantar sahabatnya sampai ke depan rumah.

Cemburu pada si pengganggu

Namun bukan berarti saya jadi antipati dengan perasaan cemburu. Suatu ketika, pasangan sering menerima telpon dari seorang teman prianya. Hampir tiap malam, pria itu menelepon si dia untuk curhat. Akibatnya, telepon rumah si dia selalu sibuk sampai saya sulit menghubunginya. Inilah yang memancing kecemburuan. Saya jadi sulit berkomunikasi dengan pasangan sendiri. Padahal kami bisa dibilang pasangan sibuk yang jarang punya waktu buat kencan berdua. Apalagi tak lama kemudian mulai tersiar kabar kalau pria itu mulai jatuh hati pada istri saya! Rasanya sudah saatnya pasang kuda-kuda! Alasannya sederhana saja, pria itu tak sekadar jadi pengganggu komunikasi saya dengan pasangan, tapi ia punya niat menggeser posisi saya. Sayapun buru-buru ambil tindakan preventif. Jadi detektif gadungan guna menyelidiki nomor telepon pria itu, lalu saya bicarakan baik-baik dengannya tentang perilakunya yang meresahkan saya. Untunglah tak perlu adu jotos buat menyelesaikan hubungan ini. Pria itu spontan mundur teratur.

Hubungan minus cemburu

Seorang teman berkata pada saya,"Pantas kamu tidak pernah cemburu, usia pacaran kamu, kan, lama, jadi sudah saling mengenal!" Memang sih, hampir enam tahun saya berpacaran dengan wanita yang tahun lalu resmi jadi pasangan seumur hidup ini. Tapi sepertinya usia pacaran yang lama tak ada hubungan dengan rasa cemburu saya yang kadarnya sangat rendah.

Saya sadar saya punya hobi mengutak-atik mobil dan motor, main bilyar, serta nonton bola sampai pagi. Pasangan pun punya kesukaannya sendiri. Saya ingat betul, ia paling doyan berburu barang berlabel "sale", ngobrol berjam-jam di telepon, atau pergi ke rave party sampai pagi. Nah, berhubung sulit menemukan persamaan hobi di antara kami, saya lebih memilih membiarkan ia menjalani hobinya tanpa kehadiran saya juga rasa cemburu tadi. Toh konsekuensinya cukup menjanjikan: saya jadi punya waktu buat berlama-lama menjalani kegiatan favorit. Agar makin mulus, saya memilih untuk memberi kepercayaan penuh padanya. Sekuat tenaga saya belajar mengesampingkan perasaan yang namanya cemburu itu. Awalnya memang sulit. Tapi setelah dicoba, saya sangat menikmatinya.

Sulit dibayangkan jika saya terus cemburu. Bisa-bisa sebagian gaji yang biasanya saya sisihkan untuk memodifikasi mobil, amblas buat membayar tagihan ponsel. Konsentrasi yang harusnya bisa dipusatkan untuk menyodok bola delapan jadi terpecah gara-gara curiga pada bartender club favorit si dia.

Selain itu, saya malah makin bangga saat menggandeng si dia. Betapa tidak? ia punya banyak koneksi dan teman, di luar teman-teman kami berdua saat kuliah dulu atau pacar teman-teman saya. Tidak sia-sia bukan saya menjaga jarak dengan perasaan cemburu?

Cemburu dipertanyakan

Tapi ternyata, kisah cinta saya tak langsung berakhir seperti kisah Cinderella yang happy ending. Saat masih pacaran dulu, si dia pernah protes dan mulai mempertanyakan rasa cinta saya padanya. "Aku senang tidak pernah dilarang-larang, tapi lama-lama, kan, jadi curiga. Jangan-jangan kamu sudah tidak peduli sama aku lagi ya, atau malah sudah punya pacar baru"

Pertanyaan ini sempat bikin saya garuk-garuk kepala. Dasar wanita! Jarang merasa puas dalam hubungan! Setelah memutar otak sejenak, saya kembali minta ia tak mengaitkan ketidakcemburuan saya dengan rasa cinta. Toh tidak selamanya cemburu berarti cinta, bukan? Tak jarang cemburu malah jadi penghalang rasa cinta. Secara garis besar, bisa dibilang saya ini ogah cemburu agar hubungan jadi praktis dan tidak ribet! Menjadikan Jumat malam sebagai hari main bareng pasangan dan hari Sabtu sebagai hari berduaan rasanya lebih praktis ketimbang harus membagi hari Sabtu untuk belanja ke mal, ganti oli ke bengkel, sekaligus nonton bioskop berdua. Ribet! Apalagi jika punya pacar dua orang. Bukankah artinya semua kepentingan di atas jadi berlipat ganda jumlahnya? Oh tidak, bisa-bisa aksi Valentino Rossi di lapangan balap tak sempat lagi saya tonton, karena sibuk melakukan kegiatan yang tak perlu itu!

Is He A Player Or A Keeper?

Wednesday, January 3rd, 2007

Sebagai pria kami pun merasa harus mengutamakan proses filterisasi terhadap calon pasangan wanita yang kami seleksi. Namun, karena identitas biologis kami sebagai kaum Adam, seringkali perilaku selektif kami distigma sebagai aktivitas seorang playboy. Padahal, layaknya Anda kami pun memiliki perasaan. Dan perasaan tak bisa dipaksakan. Ketika tidak cocok, tentunya kami akan mencari yang lain. Wajar saja kan? Namun ketika hati telah terpincut, kami pasti menunjukkannya secara gamblang. Berikut beberapa situasi untuk menganalisa tingkah laku kami: The Eager-Meter Dalam usaha melakukan pendekatan kami pun mengadopsi Rational-Choice Theory (teori untung-rugi). Artinya, kami mengukur kadar kecocokan hubungan melalui proses analisa timbal-balik. Ketika Anda memberi respon yang kurang baik, maka cepat-cepat kami mundur teratur. Namun, jika Anda sangat spesial bagi kami dan bukan sekadar obyek iseng-iseng berhadiah, tentunya daya paksa dan rasa keukeuh untuk mendekati otomatis jadi lebih keras. "Bagi saya Morrissey itu benar, the more you ignore me the closer I get," ujar Harris, 24 tahun. The Audio-Rodeo Pada wanita yang sangat istimewa, konon kami ingin mengetahui segala hal mengenai dirinya. Bukan maksud menjadi stalker, namun bila Andalah si wanita itu, kami akan mendengarkan secara seksama saat Anda bicara, baik melalui telepon ataupun secara langsung. Intinya, kami selalu bersedia menjadi ‘tong sampah’ curahan hati Anda ketika tengah gundah ataupun gembira. Lain halnya pada wanita yang bukan target khusus, biasanya kami tidak begitu tertarik dengan cerita hidupnya. Reza, 23 tahun menyatakan, "Saya rela menelepon si dia hingga pulsa rumah bengkak demi menenangkan hatinya yang saat itu sedang resah soal masalah pekerjaan." The Booty-Call Bukan bermaksud jahat, tetapi Anda bisa melihat tingkat keseriusan kami melalui fluktuasi absensi kami dalam kehidupan Anda. Misalnya, dalam beberapa minggu terakhir kami sudah sangat jarang menghubungi baik melalui SMS atau telepon, dan tiba-tiba saja kami menghubungi tapi dengan hidden agenda dan kemudian dilanjutkan lagi berperilaku sama pada minggu berikutnya. Lain halnya jika kami sangat serius dengan Anda. Bisa-bisa menghubungi Anda layaknya minum obat saja, tiga kali sehari. Pangeran, 26 tahun berkata, "Cara saya menunjukkan bahwa saya tidak terlalu serius ialah dengan ‘timbul-tenggelam’, menghubunginya jika kebetulan ingat saja."