cemburu
Bicara soal cemburu, sudah tentu tiap orang pernah dihinggapi oleh perasaan yang satu ini. Tak cuma wanita yang bisa dilanda cemburu saat kekasihnya sering menerima telepon dari sang mantan pacar. Pria juga sering dibakar api cemburu ketika memergoki sang sahabat memberi perhatian lebih pada kekasihnya. Banyak orang bilang cemburu itu tanda sayang atau cinta. "Kalau tidak cemburu, berarti dia tidak cinta kepada saya" begitu menurut pengakuan seorang teman wanita saya.
Tapi, ngomong-ngomong, sinyal untuk menunjukkan Anda mencintai pasangan tak cuma harus diperlihatkan dengan rasa cemburu, bukan? Saya lebih memilih untuk memberi kepercayaan dan kebebasan. Dua hal itu saya anggap paling penting dalam suatu hubungan, apapun bentuknya. Mungkin itu sebabnya, beberapa teman heran dengan kemurahan hati saya yang sering mengizinkan istri saya untuk clubbing bareng teman-teman prianya, atau bahkan nonton berdua dengan seorang sahabat pria. Tentu saja saya tak keberatan. Bukan saja saya telah mengenal deretan pria-pria itu, tapi saya sadar betul bahwa pasangan saya memegang sebuah ponsel yang bisa saya hubungi setiap waktu. Aman, kan? Plus satu bonus lagi: jika si dia pergi bareng teman pria, artinya saya bebas tugas. Tak perlu sibuk mengatur jadwal buat mengantar jemput. Saya yakin seorang pria yang baik, pasti tak keberatan mengantar sahabatnya sampai ke depan rumah.
Cemburu pada si pengganggu
Namun bukan berarti saya jadi antipati dengan perasaan cemburu. Suatu ketika, pasangan sering menerima telpon dari seorang teman prianya. Hampir tiap malam, pria itu menelepon si dia untuk curhat. Akibatnya, telepon rumah si dia selalu sibuk sampai saya sulit menghubunginya. Inilah yang memancing kecemburuan. Saya jadi sulit berkomunikasi dengan pasangan sendiri. Padahal kami bisa dibilang pasangan sibuk yang jarang punya waktu buat kencan berdua. Apalagi tak lama kemudian mulai tersiar kabar kalau pria itu mulai jatuh hati pada istri saya! Rasanya sudah saatnya pasang kuda-kuda! Alasannya sederhana saja, pria itu tak sekadar jadi pengganggu komunikasi saya dengan pasangan, tapi ia punya niat menggeser posisi saya. Sayapun buru-buru ambil tindakan preventif. Jadi detektif gadungan guna menyelidiki nomor telepon pria itu, lalu saya bicarakan baik-baik dengannya tentang perilakunya yang meresahkan saya. Untunglah tak perlu adu jotos buat menyelesaikan hubungan ini. Pria itu spontan mundur teratur.
Hubungan minus cemburu
Seorang teman berkata pada saya,"Pantas kamu tidak pernah cemburu, usia pacaran kamu, kan, lama, jadi sudah saling mengenal!" Memang sih, hampir enam tahun saya berpacaran dengan wanita yang tahun lalu resmi jadi pasangan seumur hidup ini. Tapi sepertinya usia pacaran yang lama tak ada hubungan dengan rasa cemburu saya yang kadarnya sangat rendah.
Saya sadar saya punya hobi mengutak-atik mobil dan motor, main bilyar, serta nonton bola sampai pagi. Pasangan pun punya kesukaannya sendiri. Saya ingat betul, ia paling doyan berburu barang berlabel "sale", ngobrol berjam-jam di telepon, atau pergi ke rave party sampai pagi. Nah, berhubung sulit menemukan persamaan hobi di antara kami, saya lebih memilih membiarkan ia menjalani hobinya tanpa kehadiran saya juga rasa cemburu tadi. Toh konsekuensinya cukup menjanjikan: saya jadi punya waktu buat berlama-lama menjalani kegiatan favorit. Agar makin mulus, saya memilih untuk memberi kepercayaan penuh padanya. Sekuat tenaga saya belajar mengesampingkan perasaan yang namanya cemburu itu. Awalnya memang sulit. Tapi setelah dicoba, saya sangat menikmatinya.
Sulit dibayangkan jika saya terus cemburu. Bisa-bisa sebagian gaji yang biasanya saya sisihkan untuk memodifikasi mobil, amblas buat membayar tagihan ponsel. Konsentrasi yang harusnya bisa dipusatkan untuk menyodok bola delapan jadi terpecah gara-gara curiga pada bartender club favorit si dia.
Selain itu, saya malah makin bangga saat menggandeng si dia. Betapa tidak? ia punya banyak koneksi dan teman, di luar teman-teman kami berdua saat kuliah dulu atau pacar teman-teman saya. Tidak sia-sia bukan saya menjaga jarak dengan perasaan cemburu?
Cemburu dipertanyakan
Tapi ternyata, kisah cinta saya tak langsung berakhir seperti kisah Cinderella yang happy ending. Saat masih pacaran dulu, si dia pernah protes dan mulai mempertanyakan rasa cinta saya padanya. "Aku senang tidak pernah dilarang-larang, tapi lama-lama, kan, jadi curiga. Jangan-jangan kamu sudah tidak peduli sama aku lagi ya, atau malah sudah punya pacar baru"
Pertanyaan ini sempat bikin saya garuk-garuk kepala. Dasar wanita! Jarang merasa puas dalam hubungan! Setelah memutar otak sejenak, saya kembali minta ia tak mengaitkan ketidakcemburuan saya dengan rasa cinta. Toh tidak selamanya cemburu berarti cinta, bukan? Tak jarang cemburu malah jadi penghalang rasa cinta. Secara garis besar, bisa dibilang saya ini ogah cemburu agar hubungan jadi praktis dan tidak ribet! Menjadikan Jumat malam sebagai hari main bareng pasangan dan hari Sabtu sebagai hari berduaan rasanya lebih praktis ketimbang harus membagi hari Sabtu untuk belanja ke mal, ganti oli ke bengkel, sekaligus nonton bioskop berdua. Ribet! Apalagi jika punya pacar dua orang. Bukankah artinya semua kepentingan di atas jadi berlipat ganda jumlahnya? Oh tidak, bisa-bisa aksi Valentino Rossi di lapangan balap tak sempat lagi saya tonton, karena sibuk melakukan kegiatan yang tak perlu itu!