Erase Your Bad Habits, Fast!

Sekilas, rentetan kebiasaan ini memang nampak sepele. Tetapi jika tak waspada, bisa jadi impian Anda mendomisili ruangan berjendela besar milik si bos hanya tinggal isapan jempol belaka. Maka dari itulah, teman, sebelum terlanjur menghela napas penyesalan, Cosmo siapkan kiat-kiat trampil untuk mengikis kebiasaan-kebiasaan yang bisa membahayakan masa depan. Tak lama, puncak karier yang gemilang itu akan jadi milik Anda.

Unfriendly Habit 1:

Waiting to be handed what you want

"Duh, kenapa, ya, promosi jabatan itu tak kunjung menghampiri saya? Ya sudah, saya tunggu saja hasil penilaian performa kerja berikutnya." Oke, deretan kalimat itu tentu sering Anda dengar, atau jangan-jangan Anda juga pernah mengatakannya. Well, darling, sudah bukan zamannya lagi Anda duduk manis dan berharap posisi impian itu bakal jatuh ke pangkuan. Awas, bersikap pasrah seperti itu bisa membuat karier Anda terbengkalai. Elaine Sampson, pemilik Avocado Vision, perusahaan komunikasi interpersonal di Afrika Selatan berpendapat bahwa tindakan pasif tersebut justru melanda banyak wanita muda, terutama buat yang baru bergabung di dunia kerja. "Sebagian besar wanita enggan membahas prestasi yang telah mereka capai selama ini. Dan, di kala mereka berani mengutarakannya, tak jarang dari mereka yang malah bersikap rendah hati, berharap bukti sukses yang telah diraihnya itu bisa ‘berbicara’ dengan sendirinya," papar Elaine. Sayangnya, kenyataan itu jarang sekali terjadi.

Corner-office pointers:

- Entah Anda ingin kenaikan gaji atau promosi jabatan, jangan pernah sungkan untuk memaparkan kelebihan serta kemampuan kerja Anda di depan atasan. Pastikan juga para kolega tahu bahwa Anda benar-benar menguasai bidang pekerjaan yang Anda lakukan selama ini.

- Bersikap asertif dan jangan ragu untuk menawarkan bantuan atau tugas ekstra kepada atasan.

- Menurut Lois Frankel, pengarang Nice Girls Don€™t Get The Corner Office, sebelum menghadiri sesi review tahunan, pastikan Anda persiapkan terlebih dahulu daftar sukses yang ingin diutarakan di hadapan bos. Selanjutnya, pikirkan masak-masak tentang apa yang Anda inginkan dan kenapa Anda layak mendapatkannya. Utarakan hasil-hasil positif yang pernah Anda sumbangkan untuk perusahaan serta kontribusi yang Anda berikan kepada sesama rekan kerja selama ini. Gunakan sesi penting ini untuk mempromosikan diri kepada atasan.

Unfriendly Habit 2:

Put networking on the back seat.

Jangan pernah abaikan waktu untuk beramah-tamah dengan para kolega di kantor. Hei, tak ada salahnya sesekali bertukar cerita seputar akhir pekan Anda dengan mereka. Hanya pastikan kisah erotis Anda dan pasangan tetap jadi rahasia pribadi. Buhle Dlamini, pakar bisnis dari biro konsultan Young and Able berkata bahwa pada momen-momen inilah Anda punya peluang besar untuk lebih mengenal pribadi dari masing-masing rekan sejawat. Membangun jaringan relasi jelas penting. Karena di kala Anda butuh bantuan darurat, merekalah yang akan siap menolong Anda. Dan, hubungan sosial itu kerap lahir dari suatu kesamaan, seperti cara pandang, minat bahkan gaya hidup. "Tak bisa dipungkiri, setiap orang akan lebih semangat bekerja dengan kolega yang memiliki persamaan dengan dirinya," ungkap Dlamini. Menjalin relasi baik dengan klien dan para profesional lainnya di bidang yang Anda geluti juga punya peranan yang tak kalah penting bagi masa depan karier Anda.

Corner-office pointers:

- Frankel menyarankan untuk selalu meluangkan waktu sekitar 5% dari total jam kerja Anda per hari untuk membangun jaringan relasi. Anda tak pernah tahu kapan butuh uluran tangan mereka.

- Kegiatan di atas juga meliputi sesi berbincang di telepon dengan para kenalan Anda. Jangan ragu menghubungi para relasi baru (baik via email, sms atau telepon). Buat apa mengoleksi kartu nama mereka jika Anda tak tahu cara menggunakannya secara maksimal.

- Terapkan nasehat Frankel: bergabunglah dengan asosiasi atau komunitas untuk para profesional muda yang bergerak di bidang kerja Anda. Di dalam wadah itu, Anda bisa berburu banyak relasi penting sekaligus mencari sosok "guru" yang bisa jadi penasehat karier Anda.

- Ikut dalam grup aktivitas yang tersedia di kantor Anda. Kelas yoga atau kelompok pecinta film, misalnya. Atau, ambil inisiatif untuk menggelar acara hang out bersama beberapa teman dari satu divisi seusai jam kantor.

Unfriendly Habit 3:

Working hard (not smart)

"Kebiasaan menguras segenap tenaga untuk bekerja tanpa memedulikan kehidupan pribadi, lama-kelamaan bisa ‘menggerogoti’ kesehatan fisik dan batin Anda," jelas Dlamini. Frankel pun menambahkan bahwa banyak wanita yang merasa perlu bekerja dua kali lebih giat dibanding pria agar dinilai mampu oleh atasan. Padahal, asumsi itu salah besar! Cara tercepat untuk mengembangkan karier Anda adalah dengan memiliki kebiasaan kerja yang efektif.

Corner-office pointers:

- Frankel sarankan agar Anda bekerja hanya pada jam kantor yang telah ditentukan. Bukan berarti Anda tak akan pernah lembur. Hanya saja, jika Anda terus menerus lembur, itu pertanda ada sesuatu yang perlu Anda benahi: baik itu cara Anda mengelola waktu kerja atau cara Anda memilah prioritas tugas yang patut dikerjakan saat itu. Inilah saatnya untuk introspeksi, teman.

- Daripada sibuk lembur di kantor, coba fokuskan diri untuk mengembangkan cara yang efektif agar orang-orang dapat melihat performa Anda selama ini. Caranya, jadilah karyawan yang profesional, miliki ketrampilan berorganisasi yang andal, jaga hubungan baik dengan bos dan seluruh kolega, tunjukkan kemampuan berpikir secara strategis, dan berani ambil inisiatif dalam tiap kesempatan.

- Sebelum mulai bekerja di pagi hari, tentukan dahulu dengan seksama hal-hal apa saja yang ingin Anda capai hari itu dan coba patuhi daftar rencana tersebut.

Unfriendly Habit 4:

Taking feedback personally

Tak jarang wanita menanggapi kritik pedas dari sesama kolega atau bahkan atasan sebagai bentuk ’serangan’ yang bersifat pribadi. Ya, wanita memang gemar menggunakan emosinya, termasuk saat bertugas di kantor. Padahal menurut Dlamini, seharusnya wanita memandang kritik sebagai kesempatan emas untuk membenahi kinerja serta kemampuan yang mereka miliki. Tak hanya itu, deretan saran dari si bos, klien atau rekan kerja juga bisa membantu Anda untuk meneropong keunggulan serta kekurangan diri Anda. Jelas, kuncinya terletak pada bagaimana Anda mengolah kritik tersebut. Daripada bersikap defensif, biarkan opini tajam itu memompa semangat Anda untuk menjadi sosok karyawan yang lebih baik lagi.

Corner-office pointers:

- Kembangkan sifat "tebal muka". Lain kali Anda dikritik, sisihkan sejenak perasaan sakit hati itu. Lalu, ikuti dahulu saran tersebut. Jika Anda merasa kritik tersebut tak masuk di akal, mintalah pendapat orang lain. Jika tanggapan mereka sama, barulah rombak sifat Anda itu secara perlahan.

- Ucapkan terima kasih kepada sang kritikus meski Anda tak setuju dengan pendapatnya, dan jangan beberkan alasan Anda itu di sela perkataan.

- Tanyakan pada atasan tentang hal-hal apa saja yang perlu dibenahi dari diri Anda. Lakukan sesi review ini secara rutin. Sifat Anda yang berani ambil inisiatif untuk meminta saran dan kritik dari si bos, jelas menunjukkan bahwa Anda adalah pekerja serius dan selalu coba untuk menjadi seorang profesional yang lebih baik lagi.

Unfriendly Habit 5:

Gossiping as your daily work

"Sulit memang menghindari kebiasaan yang satu ini. Kalau para wanita sudah berkumpul, hasrat untuk bergosip rasanya tak bisa dibendung lagi," ujar Ceti Prameswari, Psi, psikolog. Sah-sah saja jika sekali dua kali Anda ikut terlibat dalam ajang rumpi bersama rekan-rekan sekantor. Tetapi menurut Ceti, jika Anda terlalu sering memancing gosip, maka tindakan itu sangat berpotensi untuk mengganggu lingkungan kerja Anda. Waspadalah, teman. "Bisa jadi, kolega yang menjadi si topik gosip hilang kesabarannya dan melakukan tindakan balasan yang bisa ‘melukai’ karier Anda," papar Ceti. Belum lagi, jika atasan beserta rekan kerja lainnya mulai hilang kepercayaannya pada Anda. Bisa jadi, Anda dikucilkan dari arena pergaulan di kantor.

Corner-office pointers:

- Kerahkan segenap aura positif dengan selalu membicarakan keberhasilan serta kebaikan orang lain. Itu berlaku kapan pun dan di mana pun Anda berada. Termasuk di dalam toilet kantor sekalipun. Ingat, dinding kantor biasanya "bertelinga", teman.

- Jika Anda keceplosan berkata negatif tentang seorang kolega, buru-buru ralat dengan sebuah pernyataan positif tentang dirinya di akhir perbincangan.

- Jaga tiap rahasia yang telah dipercayakan oleh bos, rekan kerja, klien, atau narasumber kepada Anda. Sikap mulia itu akan meningkatkan kredibilitas Anda sebagai sosok profesional yang dapat dipercaya.

Leave a Reply