Is He A Player Or A Keeper?
Sebagai pria kami pun merasa harus mengutamakan proses filterisasi terhadap calon pasangan wanita yang kami seleksi. Namun, karena identitas biologis kami sebagai kaum Adam, seringkali perilaku selektif kami distigma sebagai aktivitas seorang playboy. Padahal, layaknya Anda kami pun memiliki perasaan. Dan perasaan tak bisa dipaksakan. Ketika tidak cocok, tentunya kami akan mencari yang lain. Wajar saja kan? Namun ketika hati telah terpincut, kami pasti menunjukkannya secara gamblang. Berikut beberapa situasi untuk menganalisa tingkah laku kami: The Eager-Meter Dalam usaha melakukan pendekatan kami pun mengadopsi Rational-Choice Theory (teori untung-rugi). Artinya, kami mengukur kadar kecocokan hubungan melalui proses analisa timbal-balik. Ketika Anda memberi respon yang kurang baik, maka cepat-cepat kami mundur teratur. Namun, jika Anda sangat spesial bagi kami dan bukan sekadar obyek iseng-iseng berhadiah, tentunya daya paksa dan rasa keukeuh untuk mendekati otomatis jadi lebih keras. "Bagi saya Morrissey itu benar, the more you ignore me the closer I get," ujar Harris, 24 tahun. The Audio-Rodeo Pada wanita yang sangat istimewa, konon kami ingin mengetahui segala hal mengenai dirinya. Bukan maksud menjadi stalker, namun bila Andalah si wanita itu, kami akan mendengarkan secara seksama saat Anda bicara, baik melalui telepon ataupun secara langsung. Intinya, kami selalu bersedia menjadi ‘tong sampah’ curahan hati Anda ketika tengah gundah ataupun gembira. Lain halnya pada wanita yang bukan target khusus, biasanya kami tidak begitu tertarik dengan cerita hidupnya. Reza, 23 tahun menyatakan, "Saya rela menelepon si dia hingga pulsa rumah bengkak demi menenangkan hatinya yang saat itu sedang resah soal masalah pekerjaan." The Booty-Call Bukan bermaksud jahat, tetapi Anda bisa melihat tingkat keseriusan kami melalui fluktuasi absensi kami dalam kehidupan Anda. Misalnya, dalam beberapa minggu terakhir kami sudah sangat jarang menghubungi baik melalui SMS atau telepon, dan tiba-tiba saja kami menghubungi tapi dengan hidden agenda dan kemudian dilanjutkan lagi berperilaku sama pada minggu berikutnya. Lain halnya jika kami sangat serius dengan Anda. Bisa-bisa menghubungi Anda layaknya minum obat saja, tiga kali sehari. Pangeran, 26 tahun berkata, "Cara saya menunjukkan bahwa saya tidak terlalu serius ialah dengan ‘timbul-tenggelam’, menghubunginya jika kebetulan ingat saja."